Monday, June 11, 2018

Tokoh Tanpa Nama 3


“Capek?”

Sungguh, kini bukan lagi hanya soal binar mata, kelembutan tuturnya tiba-tiba kembali menggetarkan gendang telinga. Perlahan merasuki membran pendengaran dan merayap lembut bak kain sutra seharga ratusan ribu. Sambung menyambung dari satu organ ke yang lainnya, merangsang syaraf indera lalu terhantarlah sampai ke otakku.

“Biasa, Kak.” jawabku setelah berhasil kukumpulkan lagi nyawa yang untuk beberapa saat melayang-layang semaunya. Hampir tak percaya memang, tapi apa mau dikata jika dia benar-benar nyata, berdiri di hadapanku yang artinya memang akulah yang baru saja ditanyainya.
***
Kala itu, waktu sudah hampir jam sepuluh malam. Aula yang sedari sore sudah dipenuhi para pemburu Wi-Fi mulai tampak tak berpenghuni. Satu per satu berjalan keluar gerbang memandangi kami dengan tatapan heran. Jalanan di depan juga tampak lengang. Tak terdengar lagi deru suara motor yang bak saling berkompetisi. Sepi.

Suasana menjadi terasa semakin sunyi kala si kakak tiba-tiba meninggalkan gerombolan. Iya, sekitar lima menit yang lalu memang seorang perempuan tiba-tiba datang. Menyeretnya beberapa meter dari kami, berbisik lirih. Dan entah apa yang sudah diucapkan sang perempuan, tampak terjadi sedikit diskusi lalu si kakak melangkahkan kaki.

Setidaknya begitulah bagaimana malam itu berlalu dengan menyisakan secuil sendu. Karena jangankan untuk sempat bertutur sapa, tahu namanya saja aku tidak. Dia pergi tanpa menengok untuk kembali dan yang tersisa hanya seberkas ingatan tetang binar yang entah mengapa ketemukan sebuah kelembutan di sana.

Hari demi hari terus berjalan bagai roda tanpa poros pemberhentian. Fajar seolah tak pernah lelah hadir menyambut sang mentari. Pun sama halnya dengan senja yang selalu setia mengantar sang surya ke peraduannya. Terus bergantian. Lalu si kakak? Ah, aku tidak lagi pernah melihat batang hidungnya di area kampus ataupun pusat kegiatan. Dia menghilang untuk waktu yang bahkan tidak sama sekali kutahu.

“Bengong sampe lupa makan?” kembali suara Sintalah yang memecah lamunan. Tanpa dikomando dua kali, aku menutup album foto dan bersiap-siap berburu makan di warteg langganan

 Kau dan aku adalah ketidakmungkinan yang hanya akan terjadi bila Tuhan menghendaki. Sampai jumpa kembali, Kakak.
Selesai





No comments:

Post a Comment