Wednesday, May 16, 2018

Tokoh Tanpa Nama (2)


Isya…

Satu masa yang menjadi pembuka cerita. Isya yang entah mengapa mengingatkanku pada alasan mengapa di sini. Isya yang… Ah, aku memang sudah terlanjur terdampar di kota ini. Terlibat dalam sebuah drama aneh tak terdefinisi. Yang alasannya tak lain adalah soal mencari.


Mencari adalah satu-satunya kata paling memotivasi. Karena bagaimanapun juga, aku merasa sudah buta belasan tahun lamanya. Lahir dan dibesarkan di satu dusun tertinggal membuatku merasa tak tahu apa-apa dan tak bisa ke mana-mana. Ditambah lagi, aku tak ditakdirkan lahir jenius seperti Habibie.
***
“Kalau kau yakin dengan keputusanmu sekolah, perjuangkan hingga tetes darah penghabisan.” ujar bapak yang sudah sejak sore bercerita ngalor-ngidul denganku. Malam itu tepat 17 Agustus saat hasil seleksi masuk PTN yang kuikuti diumumkan.

Setidaknya memang bapaklah salah satu alasanku fokus bersekolah meskipun sebenarnya ada pulusan hal yang membangkitkan lagi semangatku. Semangat yang sudah sempat tercabik-cabik yang puing-puingnya cukup lama tak kuacuhkan. Tapi sudahlah, biar kusimpan dalam memori otakku saja.

Kembali soal isya, aku tak cukup bisa mengingat detail kronologinya. Lagi-lagi mungkin karena IQ-ku yang tak jauh dari angka sembilan puluh yang akhirnya membuatku mudah lupa. Hanya beberapa penggal cerita saja yang sanggup kutemukan dalam memori. Atau aku saja yang terlalu berfokus pada dia, entahlah. Yang jelas aku masih ingat betul postur tubuhnya. Tinggi semampai meski tak cukup atletis. Kalau kukira-kira mungkin aku hanya setinggi bahunya.
***
Malam itu kami, aku dan beberapa mahasiswa baru lainnya, sudah berkumpul di lapangan terbuka. Tempat itu semacam area berkumpul mahasiswa yang terdiri dari mushola dan beberapa gedung lainnya.

“Jangan banyak bercanda!” serunya tiba-tiba tepat di muka telinga kiri. Iya, dialah kakak yang pernah kuceritakan sebelumnya.

Terlampau keras, aku refleks melompat sebisa-bisanya. Dan malang, aku jatuh tersungkur di hadapannya. Di depan kakak yang berpakaian serba hitam itu. Saking malunya tanpa sadar aku menutup muka sembari sedikit meringis memperlihatkan gigiku yang tak pernah gupis.

“Kau gila?” keras suaranya menggetarkan gendang telinga.

Aku mencoba bangkit dan kembali berlari. Aku tahu kakiku yang telanjang beberapa kali membentur paving block yang tentu saja berkali-kali lipat kerasnya. Tapi tak kuhiraukan demi harga diri. Harga diri? Kurasa bukan. Ada rasa aneh yang tak bias kujelaskan dengan logika. Aku seolah ingin terlihat keren di mata si kakak. Cinta? Masih terlalu picisan untuk kusebut demikian.

“Balik lagi!” samar-samar dari kejauhan ia memberi instruksi.

Aku dan beberapa teman seperjuangan mengerahkan segenap tenaga yang tersisa karena semangat kami sudah hampir habis sama sekali. Aku coba mengingat-ingat menu apa yang kusantap selepas magrib tadi yang tak lain adalah beberapa bungkus nasi kucing dan sate jeroan. Kalau kuhitung-hitung, aku mengkonsumsi tidak lebih dari satu ons jeroan dengan 27 kalori dan dan 5 kepal nasi yang mungkin hanya mengandung 300-an kalori. Memangnya tidak cukup? batinku mengutuk diri.

Ayunan kaki terseok-seok mulai berpaju lagi setelah membalik garis finish. Satu, dua, tiga, dan seterusnya. Kini, hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai di hadapannya. Remang-remam kuterawang wajahnya yang seram. Sepersekian detik kudapati sorot matanya. Tak dapat kupungkiri sama sekali, ada binar kelembutan di sana. Binar yang untuk kesekian kali berhasil memicu jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya.


Bersambung…






No comments:

Post a Comment