Thursday, February 15, 2018

(Mungkin) Cinta Pertama


Pagi itu langit cerah. Angin berhembus lembut, beberapa gumpalan awan putih berarak mengikuti arah tiupannya. Mentari bersinar terang, menembus daun-daun kelapa yang sedikit bergoyang. Sinar yang memancarkan vitamin D itu menghangatkan tubuhku. Aku dan kawan-kawanku. Kami telah siap, berdiri dengan kaos merah putih dan sedikit garis biru yang memisahkannya. Garis itu menyayat miring tepat didadaku.

            Kami berbaris empat bajar di halaman sekolah. Bangunan sekolah ini sudah cukup tua. Memang karena umurnya yang jauh melampauhi umur kami. Mungkin salah satu orang tua dari kami pun dulu ada yang bersekolah di sini. Meskipun sudah direnovasi beberapa kali, namun kesan ancient tetap kental melekat pada dinding-dindingnya.

            Ini adalah  kamis pertama sejak aku masuk sebagai murid kelas empat. Tepatnya sejak bapak mengambil raporku pada hari Sabtu, dua minggu yang lalu.
Berapa, Pak?” tanyaku  pada bapak.
 Kuraih rapor warna merah dengan benang putih di tengahnya. Itu bukanlah desain yang disengaja, melainkan perbaikan kerusakan akibat jatuh ke selokan tahun lalu.

Sama” jawab bapak singat. 
Itulah jawaban yang selalu kudengar setiap kali penerimaan rapor. Kadang aku bertanya-tanya, "Tidak berharga kah  ranking itu?" Kadang juga aku berharap ada hadiah dari sekolah seperti cerita pendek " Ranking Satu" di buku Pintar Membaca-ku. Dan nihil.

Barang kali, baik orang tua ataupun guruku sedang menanamkan nilai yang sama. Bahwa pencapaian tak identik dengan minta imbalan. Tapi bagaimana soal apresiasi? Ah, toh dulu aku tak cukup mengerti.

            Kami telah berdiri sekitar lima belas menit sebelum pak Hardi, guru olahragaku datang.  Ia berdiri di hadapan kami. Masih dengan kaos dan trening biru serta peluit yang dikalungkan di lehernya. Tak lupa topi hitam yang menutupi kepala guru asli Wonogiri itu. Kumis yang cukup tembal mencerminakan jiwanya yang keras. Tetapi siapa sangka di balik wajahnya yang terkesan seram itu, ada jiwa humor yang selalu membuat kami rindu.

“Nanti mutar ke selatan lewat kuburan, terus kembali dari utara. Dan ojo celometan” katanya.
“Iya, Pak guru” jawab kami serempak. Hal itu terkesan seperti anak TK yang memberi salam sebelum pulang. Namun itulah yang diajarkan tiap guru pada kami. Menjawab dengan nada pelan yang diucapkan bersama-sama. Bukankan itu jenis penghormatan juga?

Kamu pakai kaos dalem kan? Buka aja bajumu!” seru pak Hardi pada anak laki-laki di barisan paling barat. Ia murid baru. Ini adalah hari pertamanya. Tidak mengherankan jika ia tak tahu kalau hari ini jadwal Penjaskes. Dan alhasil ia pun tidak membawa kaos olahraga.

            Kami berlari kecil dalam barisan yang rapi, sama seperti intruksi pak Hardi. Berlari dengan telanjang kaki. Jalan yang berkerikil tajam membuat lari kami kadang terhenti. Namun aku, dengan segera aku kembali berlari setiap kali anak laki-laki di sampingku memulainya. Bagaimana tidak? Rasanya aku tak ingin melewatkan sedikit saja geraknya. Mataku terus terpaku pada sosok berkaos dalam putih dengan rambut yang terbang-jatuh beirama.I fell in love at the first sight.

            Bahkan ketika hari telah berganti aku tetap suka mangawasinya. Mencuri pandang setiap saat ia duduk menghadap tembok kelasku. Aku suka pada julukan “ ibu Megawati dan bapak SBY” yang diberikan teman-temanku pada kami. Bukan karena pasangan kekasih, tepatnya karena aku dipilih sebagai ketua kelas sedangkan dia adalah wakilku.

            Aku suka dengan semua yang ada padanya. Aku suka sepeda oranye- hitam miliknya. Betapa ia gagah bak seorang pangeran setiap kali menunggang sepeda itu. Juga, aku suka pada tasnya yang berwarna serupa. Pernah suatu siang ketika ruang kelasku gaduh, seorang teman melempar tas itu. Sialnya, tas itu malah jatuh tepat di pangkuanku. Hal yang biasa memang, tetapi betapa kencangnya detak jantungku ketika ia berjalan mendekatiku, meminta tas dipangkuanku itu.
            Maaf ya, yang nglempar Feri” katanya pelan. Itulah pertama kalinya ia bicara padaku  Tapi Aku hanya diam seribu bahasa. Lidahku kaku. Beku hingga pada suhu minus derajad. Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku hanya merasakan sakit yang teramat di dadaku. Detak jantungku begitu menggila.
***
            Mengagumi dari jauh, begitu caraku menyukainya. Mungkin itu juga yang membuatku tak pernah sekalipun berbincang dengannya. Aku hanya selalu ingin melihatnya bersepeda di depan rumahku setiap pagi. Mendengar suaranya memimpin doa setiap kelas akan dimulai. Aku hanya ingin terus memandang tas oranye-hitam dan rambut yang selalu bergoyang ketika ia berjalan.

            Mungkin ini first loveku. Tepatnya cinta monyet pertamaku. Ini bukan tentang bagaima manisnya cinta pertama dalam dunia dewasa. Tetapi hanya tentang lucunya moments ketika pertama kalinya aku menyukai si Adam. Ya, dialah lelaki berkaos dalam putih yang membuatku selalu terpesona. Sosok yang selalu membuatku berhenti  bermain tali,  diam ketika pandangannya menghambur ke arahku.
           
***
            Dering handhone menggetarkan lenganku. “Rian” begitu nama kontak muncul bersamaan dengan gampar amplop di layarnya. Dialah laki-laki berkaos dalam putih itu. Sudah sekitar dua minggu lalu ia menghubungiku setelah sekian lama hilang. Pasalnya, sejak lulus dari sekolah dasar, atau tepatnya sekolah menengah kami benar-benar lost contact. Mungkin karena jarak sekolah kami yang terpaut puluhan kilo meter, dan juga aku yang harus rela tinggal di kos-kosan. Namun dua minggu lalu ia menelfonku. Mungkin itulah pertamakalinya kami berbincang.

            “Kamu punya pacar?” tanyanya tiba-tiba di sela perbincangan kami.
            Belum” jawabku dengan sedikit terkejut. Kini ia berbeda dari anak lai-laki yang kukenal dulu. Suaranya berubah menjadi lebih besar, dan gaya bicaranya terkesan lebih berani. Barang kali ia sudah biasa merayu wanita dan meminta untuk jadi pacarnya. Pikirku.

            Boleh aku mengisi hatimu?” katanya lagi.
            Maaf, aku masih mau mengistirahatkannya” jawabku kemudian. Entah apa yang ada dalam otakku. Bukankah seharusnya aku bahagia dengan cinta pertama yang kini di depan mata. Tetapi justeru aku malah berbalik arah. Mungkin aku hanya menyukai sosok itu pada sepuluh tahun lalu. Laki-laki berkaos dalam putih yang selalu membuatku enggan dengan hari Minggu.
           
                                                             Saturday 10th January 2015
           
           


4 comments:

  1. Ya Allah seharusnya saya gk baca cerita ini 😭😭😭😭😭 bikin baper
    -
    Coba dibikin film pasti bagus banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih apresiasinya, Mas Agus Saputra:)

      Delete
  2. Replies
    1. Itu true story dengan banyak polesan fiksi, Yank. Hihi

      Delete