Friday, October 13, 2017

Short Story- Salah paham



Salah Paham

Mugiharjo. Sebuah nama desa kecil di Kabupaten paling barat provinsi Jawa Tengah. Sesuai dengan namnya yang berarti semoga makmur dalam bahasa Sansekerta, penduduk desa ini hidup penuh pengaharapan akan sebuah kemakmuran. Damai dan Asri. Pohon-pohon yang rindang berjajar di sepanjang jalan. Kleang atau daun-daun kering, jatuh dan berserakan di bawahnya. Udara yang sejuk di siang hari membuat orang yang datang merasa nyaman untuk tinggal. Ketika malam datan, jalanan gelap gulita karena lampu penerangan jalan yang memang masih sangat jarang. Dan setiap tanggal 15 pada penanggalan Jawa, bulan purnama terang benderang bersinar. Bentuknya yang bulat indah membuat anak-anak desa tertarik untuk bermain di tanah lapang, Memainkan petak umpet bersama kawan sebaya. Bersembunyi di balik pohon kelapa yang berjajar rapi layaknya pasukan pengibar bendera ketika upacara kemerdekaan.
            Di ujung desa, hamparan sawah luas membentang. Menyapa kornea yang bayangannya jatuh tepat di retina setiap mata yang memandang. Yang ketika musim bertanam tiba, para wanita desa berbondong-bondong mendatangi lautan lumpur dengan sedikit air di permukaannya. Lautan itu berkilau bak permata yang basah bermandikan cahaya. Mereka menancapkan beberapa batang bibit padi yang telah dipotong ujung daunnya. Para wanita itu memakai caping dari anyaman bambu yang hanya cukup melindungi wajah dari terik yang terasa membakar kulit. Bercengkrama dengan lumbur yang berbau rumput busuk.
***
            Waktu yang dinanti setiap warga khususnya para petani desa telah tiba. Hamparan hijau nan elok telah menguning. Burung meliwis yang stiap sore hari berjajar di pematang sawah telah enyah berganti burung emprit yang beterbangan di atas hamparan padi yang menguning indah.  Burung yang bercicit dengan ceria itu adalah musuh bagi setiap petani. Karena apabila dibiarkan, mereka akan memakan dan merusak tanaman padi. Alhasil, berkilo-kilo bulir padi berkurang tiap harinya.
            Pada hari-hari seperti ini, warga akan menajamkan indra penglihatan serta pendengaran apabila ada yang berseru dengan riang. Mbawoon. Istilah yang digunakan warga setempat untuk menandai bahwa sepetak tanaman padi hendak dipanen. Seketika orang-orang akan berlari  membawa celurit kecilnya untuk mengarit. Tidak heran di pinggir-pinggir sawah yang daun padinya menguning bergerombol orang  menungguinya. Mereka dengan sabar menunggu komando dari sang pemilik sawah.
            Pak Sarmin adalah salah satu dari sekian banyak orang di gerombolan itu. Pada siang hari, ia akan membawa bungkusan nasi dari daun pisang yang sudah dilayukan di atas api.  Yang menimbulkan wangi pada nasi yang hangat. Dan pada saat malam,  ia memakai pakaian tebal agar hawa dingin tidak  menggerogoti paru-parunya. Meski tak lagi berdarah muda, tangannya yang kekar  masih sanggup mengangkat sekarung gabah.
***
            Malam ini ia bersama keempat kawannya bersepakat untuk njanggoli atau menunggui sawah pak Marto. Umur tananman padinya sudah kurang lebih 120 hari sejak bibit itu ditancapkan. Itu artinya dalam waktu dekat padi akan dipanen.  Ia  ingin sekali bisa mendapatkan  padi varietas Ciherang itu untuk dijadikan benih bakal tanam musim hujan nanti. Bukan hanya terbilang genjah karena berumur 125 hari saj, varietas ini juga memiliki tekstur nasi yang pulen.
 Pak Sarmin tidur di bawah pohon mangga yang tumbuh satu-satunya di tengan sawah. Pohon yang tumbuh dengan dedaunan yang lebat itu bagai surga bagi setiap orang. Karena pada siang hari saat matahari terik, orang akan berlindung di bawahnya. Dan ketika malam tiba, mereka bisa dengan leluasa berteduh dari silaunya purnama.
            Keempat kawannya telah tertidur nyenyak di atas tikar pandannya masing-masing. Suara dengkuran para lelaki dewasa itu beradu.  Sementara itu, pak Sarmin masih tetap terjaga karena hawa dingin yang seolah menusuk tulang-tulangnya. Ia menggulungkan tubuhnya di dalam tikar pandan, mencoba mencari setitik kehangatan. Perlahan, ia terlena, terayu oleh syahdu malam yang dingin itu.
Mbawon- mbawon” samar-samar terdengar suara dari kejauhan. Dibukanya kembali pelupuk mata yang baru beberapa detik menutup. Didengarkannya dengan teliti suara itu, memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Lamat-lamat suara itu kian dekat. Dilihatnya rumpun padi bergerak-gerak dan suara irisan parang kecil dengan batang padi terdengar jelas di telinmganya.
Kang bangun ,, mbawon!Ia mengoyang-goyangkan tubuh keempat kawanya yang sedari tadi sudah terlelap. Satu persatu telah bangun, mengucek-ucek matanya, namun wajahnya lesu layaknya mayat yang baru saja terbangun kembali dari kuburnya.
Di mana kang?”
Sawah kang Marto.Kemudian zombi-zombi itu mengumpulkan nyawa untuk segera beraksi. Tanpa menunggu terlalu lama, ia dan kawan-kawannya  berlari ke area sawah pak Marto. Dengan terampil membabat rumpun-rumpun padi yang terasa berat karena butir gabah yang berlimpah. Setelah dibabad habis, giliran mengumpulkannya menjadi satu tumpukan besar untuk segera dirontokkan begitu hari sudah sedikit terang.
***
            Pak Marto baru saja tiba di depan sawahnya. Melihat tanaman padi yang diharapkannya sudah semakin tua namun hanya tinggal sisa babadan. Darahnya naik hingga ke ujung kepala. Ia kembali ke perkampungan dengan penuh amarah. Postur tubuhnya yang tinggi besar dengan lengan yang kokoh membuatnya terlihat lebih kuat dari orang yang seusianya.
Hey siapa yang berani-baraninya nyolong padiku!Teriaknya sambil berjalan di sepanjang jalan desa. Tak jelas pada siapa. Ia memandang setiap pintu rumah warga yang dilewatinya.
Keluar kau maling!Serunya lagi. Tak ada jawaban. Anak-anak yang ketakutan melihat tingkah pak Marto langsung lari masuk ke dalam rumah.
Kamu pikir bisa sembunyi? Lihat saja nanti kalau udah ketemu aku potong lehermu.Dengan melotot, lagi-lagi pak Marto berteriak di tengah jalan. Matanya yang lebar dan tajam serta berengos yang hampir memenuhi dagu hingga leher menambah kesan antagonis diwajahnya.
***
Oh jadi kamu dalangnya, Min?”  Tiba-tiba dengan nada tingginya pak Marto menegur pak Sarmin yang sedang duduk di bangku panjang berlengan. Ia terperanjat. Tak menyadari kedatangan pria bertubuh gempal itu.
Iya kang Marto, kang Sarmin ini yang pertama kali memberi tahu kami kalau padi kang Marto mau dipanen.Seorang lelaki yang merupakan kawan pak Sarmin itu memberi kesaksian.
Sabar dulu. Sebenarnya ada apa ini?Tanya pak Sarmin heran. Kening yang sudah tampak keriput itu mengerut hingga kedua alisnya hampir menyatu.
Jangan pura-pura kau, Maling. Sudah miskin tapi jadi maling, pantasan kere terus.
Mari kita duduk dulu, Kang. Siapa tahu cuma kesalahpahaman saja.
Alah kamu gak usah mengelak lagi. Semua saksi sudah ada kalau kamulah dalangnya.Kata pak Marto dengna penuh amarah.
Sungguh, Kang. Aku masih belum paham dengan tuduhan kang Marto.
Nggak usah pura-pura lagi, kamu maling gabahku.
Pak Sarmin hanya terdiam di posisi seperti sebelumnya, sedang istrinya yang tiba-tiba keluar dari balik tirai menangis terisak dengan  sesekali menyeka  air mata yang mengalir deras dipipinya.
Aku minta maaf, Kang. Tapi benar-benar aku tidak bermaksud jadi maling.
Kamu pikir dengan kata maaf saja sudah cukup mengganti kerugianku?”
“Tapi aku nggak nyuri, Kang.
Oh jadi kamu gak mau ngaku kalau kamu itu maling? Kurang ajar!!Tangan pak Marto hendak menyaut gagang golok di pinggangnya namun salah seorang laki-laki menahan tangnnya. Di halaman rumah pak Sarmin warga telah berkumpul seolah ingin menyaksikan pertunjukan sirkus gratis.
Ini bagaimana ceritanya?” Tanya pak RT yang  muncul dari kerumunan warga.
Ini pak, maling gabah saya dengan enaknya sekarang gak mau ngaku kalau dia maling.Pak Marto nyerocos dengan antusias.
Benar seperti itu, pak Sarmin?
Injih, tapi saya tidak sengaja jadi maling, Pak RT. Tadi malam benar-benar ada dua orang yang ngarit sebelum saya, dan saya hanya ikut saja.” Kata pak Sarmin gugup. Sekujur tubuhnya menggigil.
Sekarang kamu malah nyari kambing hitam ya atas kesalahanmu.Pak Marto menyela.
Jadi pak Sarmin tahu orangnya siapa?
Mboten, Pak. Saya tidak sempat menyapa kedua orang itu.Jawab pak Sarmin.
Penipu, kalau ada orang lain yang datang kenapa tumpukannya hanya ada lima?Pak Marto kembali tersulut amarah.
Beberapa saat, suasana hening. Lalu, lamat-lamat para warga saling pandang.
Benar  pak RT, tumpukannya cuma ada lima.Suara dari kerumunan warga di halaman tiba-tiba ikut nyelonong.
Jadi bagaimana, pak Sarmin?” tanya pak RT lagi. Pak Sarmin hanya diam seolah menahan perih yang teramat di dalam hatinya.
Maling kurang ajar!Nada bicara pak Marto kian tinggi tinggi. Rahangnya yang kokoh bersuara layaknya sedang memakan sesuatu yang asam. Matanya melotot dan tiba-tiba prakk. Golok panjang di pinggangnya melayang dan menancap di sudut meja yang terbuat dari kayu mahoni tua. Retak sedikit. Warga yang berkerumun itu terperanjat dan serentak hening menyaksikan adegan mengerikan di depan mereka.
 “Sudah usir saja, Pak. Desa Mugiharjo selalu damai kecuali ada maling-maling kotor seperti Sarmin ini.”
Sabar, pak Marto. Tidak sepantasnya kita berlaku demikian, ini negara hukum. Tidak boleh main hakim sendiri, selain itu pak Sarmin ini kan masih saudara sama bapak.Pak RT dengan bijak mencoba meluruskan perkara.
 “Maling itu gak mungkin maling saudaranya sendiri, Pak.
Pak Sarmin hanya diam tertunduk. Matanya tidak berkedip seolah tengah memperhatikan sesosok siluman di bawah sana. Ia bukan hanya merasa terdzolimi, tetapi merasa dipermalukan kakak kandungnya sendiri. Hatika hancur tanpa sisa.
 Seketika ia terkenang pada masa kanak-kanak. Ia adalah bungsu kebanggaan orang tua. Bukan hanya sikapnya yang santun dan suka membantu, prestasi yang diraih di Sekolah Rakyatnya juga kian membuat bangga. Berbeda dengan karakter Sarmin, Marto yang merupakan kakak pertamanya terbilang nakal. Selain suka tidur, ia juga beberapa kali ketahuan berkelahi. Bertolak dari sarmin kecil yang santun dan cermerlang, hidup berjalan bagai misteri. Ia hanya menjadi petani sederhana dengan seratus ubin sawah saat kakaknya menjadi tokek kaya raya di desanya.
***
Pak, kami yang salah pak.Tiba-tiba dua orang mncul dari kerumunan.
 “Memang kami yang salah tempat tadi malam, tapi karena kang Sarmin sudah terlanjur turun. Jadi kami memutuskan untuk pergi tanpa bilang apa-apa.Semua mata tertuju pada dua lelaki paruh baya itu.
Keparat!!!Pak Marto beranjak dari kursi panjang yang saling berhadapan. Mengeloyor  keluar lewat kerumunan warga dengan menahan malu. Sedang golok panjangnya dibiarkan begitu saja menancap di sudut meja.





TAMAT



No comments:

Post a Comment